KOTAMOBAGU — Kepedulian terhadap keluarga korban tragedi Drag Race di Jalan AP Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, terus berdatangan. Govaldi Faujan Bonde (GFB) menyambangi rumah duka Muksin Dondo, korban kesembilan dalam tragedi tersebut, sekaligus menyerahkan santunan kepada keluarga almarhum.
GFB hadir dalam prosesi pemakaman Muksin Dondo di kediamannya, Desa Pontodon Timur, Kecamatan Kotamobagu Timur, Minggu (16/8/2026).
Santunan tersebut diterima perwakilan keluarga korban yang didampingi Sangadi Pontodon Timur.
Perwakilan GFB mengatakan, bantuan itu merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kepada keluarga Muksin yang tengah berduka.
“Kami datang bukan untuk menggantikan apa yang telah hilang, karena kehilangan seorang anggota keluarga tentu tidak bisa dinilai dengan apa pun. Santunan ini merupakan bentuk kepedulian dan rasa duka kami kepada keluarga almarhum. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban keluarga,” ujar perwakilan GFB.
GFB juga menyampaikan belasungkawa atas kepergian Muksin Dondo. Mereka berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta ketabahan,” katanya.
Kehadiran GFB dan bantuan yang diberikan mendapat apresiasi dari keluarga korban. Muh Dani Ikbal Mokoginta, yang mewakili keluarga, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan.
“Atas nama keluarga menyampaikan terima kasih,” kata Dani.
Bagi keluarga, santunan tersebut bukan sekadar bantuan materi. Perhatian yang diberikan di tengah suasana duka menjadi bentuk solidaritas yang memberikan kekuatan bagi keluarga setelah kehilangan Muksin.
Muksin Dondo sebelumnya tercatat sebagai salah satu korban luka berat dalam tragedi Drag Race di Kelurahan Upai, Minggu (9/8/2026). Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Muksin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Kepergian Muksin menambah jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut menjadi sembilan orang.
Kini, setelah prosesi pemakaman selesai, keluarga di Pontodon Timur harus melanjutkan kehidupan tanpa Muksin. Di tengah duka dan kehilangan, perhatian dari berbagai pihak menjadi penguat bahwa keluarga korban tidak menghadapi masa berkabung seorang diri.(Rony)










